Kebudayaan Pulau Kangean
Kepulauan Kangean merupakan gugusan pulau yang terdiri
atas 60 pulau, terletak 120km (75mil) di sebelah utara pulau Bali, dan 120km di
sebelah timur pulau Madura.Kepulauan kangean memiliki 3 Kecamatan diantaranya Kecamatan
Arjasa, kecamatan Kangayan dan kecamatan Sapeken. Secara administratif Kepulauan
Kangean ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep, provinsi Jawa Timur.
Pulau ini banyak menyimpan beragam kebudayaan yang
tidak banyak terekspos, karena akses atau mungkin dari pihak pemerintah
setempat yang kurang memperhatikan, sehingga tidak banyak di ketahui khalayak
ramai, ada beberapa kebudayaan yang tidak di ketahui oleh orang banyak
diantaranya ludruk, gendhang dhumik (kecil) dan pacuan kuda atau dikenal dengan
kamrat. Kesenian ini biasanya ditampilkan atau ditanggap oleh orang yang
mempunyai hajatan pernikahan.
Gendhang dumik (kecil) adalah sutu budaya peninggalan nenek moyang yang di
kembangkan hingga saat ini,Gendeng dumik ini biasanya dilakukan saat mau ada acara
resepsi pernikahan yang biasanya dilakukan satu hari sebelum pernikahan.yang di
lakukan masyarakat kangean ketika ada acara gendeng dumik ialah ngadu silat
(saling mengeluarkan kemampuan silat masing masing ).
Lombe ( kerapan
kerbau )
Beragam budaya di Indonesia memiliki ciri
khas dan keunikan tersendiri. kerapan sapi di Pulau madura sudah dikenal luas
dan popularitasnya tak perlu dipertanyakan lagi.
Tetapi ada
tradisi Karapan Kerbau yang biasa disebut ‘Lombe’ hanya ada di Pulau Kangean,
sebuah pulau yang berada di ujung timur Pulau Madur
Tradisi
Lombe adalah sepasang kerbau diadu
kecepatannya dengan sepasang kerbau lainnya tanpa joki. Tidak seperti karapan
sapi, pasangan kerbau itu digiring oleh kuda-kuda yang masing-masing dinaiki
joki.
Fungsi
joki kuda untuk menggertak kerbau-kerbau itu sambil memukuli dari arah samping
kanan kiri, agar pasangan kerbau melaju lebih cepat sampai finish.
Tradisi
khas ini sampai kini masih bertahan dan dilakukan secara turun temurun di
Kangean. Tradisi Lombe dilakukan setelah menanam padi yang kemudian
berangsur-angsur dilakukan hingga menjelang panen.
Ketika
berlangsung pertunjukan ini, para pengunjung juga ikut berebut untuk memukul
kerbau yang lari kencang di lapangan sepanjang jalan lapang. Biasanya
menggunakan sepanjang jalan desa, tempat karapan atau lomba itu berlangsung.
Alat
pukulnya dari kayu dengan berbagai ukuran. Bahkan, para pengunjung ikut
mengejar kerbau untuk bisa memukul berulang-ulang. Dari situlah fungsi joki
kuda juga untuk menghalang-halangi penonton agar tidak banyak memukuli kerbau
yang dilepas.
Menurut keyakinan masyarakat setempat, setiap
kali seseorang dapat memukul kerbau yang sedang berlari itu, hanya sebagai
diniatkan untuk memukul dan mengusir roh halus yang disimbolkan sebagai roh
jahat yang bergentayangan menyusup atau menyerupai binatang.
Sebab di
dalam kerbau disimbolkan terdapat sejumlah penyakit dan mara bahaya yang bisa
mengganggu keselamatan dan ketentraman warga, khususnya dalam pertumbuhan hasil
pertanian.
dan masih banyak lagi kebudayaan-kebudayaan yang ada di kepulauan kangean, sangat panjang jika saya sebutkan satu persatu,dan saya hanya bisa mengambil 2 kebudayaan saja dari beberapa kebudayaan yang ada,sekian terimakasih.

Mantappp
BalasHapusMantapp brooo..Teruslah berkarya wahai anak muda
BalasHapusSiap
HapusSipp
BalasHapusKangean banyak budayanya👍
BalasHapusMantapp broo👍👍
BalasHapusTeruskan budayakan bro
BalasHapusSemoga bisa terus dilestarikan oleh generasi muda
BalasHapusMantap gaya,,, kebudayaan nya menarik
BalasHapusSiip👍👍
BalasHapusMantapp
BalasHapus