KAMPUNGKU PULAU KANGEAN


KAMPUNGKU PULAU KANGEAN




Di sebelah timur Pulau Madura pulau kecil nan eksotis itu berada. Jaraknya sekira 100 KM dari Kabupaten Sumenep. Butuh waktu kurang lebih 12 jam −sebelum ada kapal express bahari− untuk sampai kesana. Namun jarak tempuh yang demikian jauh tak akan berarti ketika sudah menginjakkan kaki di sana. Dengan pulau kecil Mamburit sebagai pintu awal masuk pulau Kangean, hamparan pasir putih siap menyambut siapapun yang datang, seolah menggoda mata untuk sekedar bermain melepas lelah. Nyiur menari-nari sepanjang hari, desir angin bak alunan musik yang mengiringi tarian nyiur itu. Semua dapat dinikmati secara cuma-cuma. Sungguh beruntung saya terlahir dan tumbuh di surga yang kini mulai tak tersembunyi itu.

Mengapa pulau itu diberi nama "Kangean" tidak ada catatan sejarah yang pasti. Cerita yang berkembang dan masih dipercaya hingga kini bahwa pulau itu pada mulanya merupakan gundukan-gundukan tanah yang timbul tenggelam mengikuti pasang surut air laut. Saat air laut pasang pulau itu tidak tampak dari kejauhan, sebaliknya pulau itu akan muncul atau tampak ke permukaan saat air laut surut. Dari situlah orang tua zaman dulu menyebutnya "kaaengan" −bahasa madura yang artinya terendam air− yang kemudian menjadi "Kangean".

Dahulu Kangean sering disebut paru-paru Madura, hal itu tidak berlebihan mengingat data yang diperoleh dari Kangean.net, Kangean memiliki luas hutan 38.244,10 Ha dari 47.121,20 Ha keseluruhan luas hutan Madura. Meski kini akibat tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab hutan lebat itu sudah mengalami banyak kerusakan, setidaknya masih bisa dibayangkan betapa sejuk dan rindang Kangean di masa lalu. Membayangkan Kangean dengan hutan yang begitu luas, dapat dipahami mengapa ayam bekisar begitu betah tinggal di Kangean, ayam jenis ini yang kelak menjadi ikon Pulau Kangean. Kini, hutan lebat itu hampir tersisa lahan gersang. Maka tak mengherankan jika Ayam bekisar yang selama ini menjadi ikon dari pulau Kangean kini menjadi sangat langka dan sulit dijumpai. Sungguh sangat disayangkan bahwa anak-anak yang lahir di masa mendatang tidak akan pernah tahu betapa merdu suara ayam itu dan betapa cantik warna yang melekat pada bulunya.

Meski masyarakat Kangean tergolong masyarakat pedesaan namun kesadaran akan pentingnya pendidikan lambat laun terus meningkat, hal ini terlihat dari semakin banyaknya masyarakat Kangean yang menuntut ilmu hingga perguruan tinggi di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, Banjarmasin dan kota-kota lain. Merujuk data Kecamatan Arjasa Dalam Angka 2016, sedikitnya terdapat 707 lulusan sarjana di Kecamatan Arjasa (salah satu kecamatan di Pulau Kangean). Data tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan jumlah lulusan sarjana pada tahun 2013 yakni 446. Peningkatan angka tersebut dapat menjadi gambaran betapa masyarakat Kangean saat ini percaya bahwa melalui pendidikan masa depan pulau Kangean akan jauh lebih baik, melalui pendidikan pula diharapkan dapat memperbaiki taraf hidup masyarakat Kangean.

Meningkatnya kesadaran akan pentingnya pendidikan tidak terlepas dari arus globalisasi dan modernisasi yang tak lagi dapat dibendung mengalir deras menuju pulau kecil nan cantik itu, menghantam keras sendi-sendi kehidupan masyarakat Kangean. Tuntutan hidup menjadi semakin meningkat, pola hidup perlahan berubah, reifikasi memenuhi isi kepala, masyarakat Kangean seakan telah terjebak dalam perangkap dan buaian modernisasi. Hal ini menyebabkan penduduk Kangean semakin berlomba-lomba mengadu nasib ke kota-kota hingga ke negeri tetangga meninggalkan Kangean dengan segala potensi dan keindahannya. Sebagaimana orang Madura pada umumnya, orang Kangean juga merupakan petualang sejati, hampir di setiap kota di Indonesia orang Kangean dapat dijumpai, bahkan hingga ke negeri tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Tentu tidak ada yang salah dengan semangat yang ditunjukkan masyarakat Kangean dalam mewujudkan mimpi mereka. Namun, yang tidak bisa begitu saja dilupakan bahwa mereka yang berada di perantauan −TKI dan Mahasiswa− seringkali kembali ke Kangean dengan membawa kebudayaan-kebudayaan baru. Sesuatu yang dapat menjadi ancaman bagi masyarakat Kangean apabila tidak disikapi dengan bijak. Meskipun kesadaran masyarakat Kangean akan pentingnya pendidikan telah jauh meningkat, namun ini tidak menjadi jaminan masyarakat Kangean siap terhadap budaya baru yang harus mereka hadapi. Sehingga hal ini membuka kemungkinan masyarakat Kangean mengalami apa yang oleh Littlejohn disebut Culture Shock atau kondisi dimana sesorang merasakan kegelisahan atau ketidaknyamanan psikis dan fisik akibat adanya kontak dengan budaya lain. Maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan yang muncul ialah dengan terus melestarikan kearifan lokal serta mengembangkan potensi yang pulau Kangean miliki.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APLIKASI PENANGANAN COVID-19

DARI UJUNG TIMUR PULAU MADURA